Pahlawan Itu
dakwatuna.com - Terkadang pikiran kita
terlalu sempit memaknai arti dari sebuah kata pahlawan. Kita beranggapan bahwa
pahlawan itu hanyalah orang-orang yang telah berjasa membebaskan negeri ini
dari penjajahan. Memang itu tidak dapat dipungkiri, karena memang begitu besar
jasa mereka kepada negeri. Namun mata hati kita akan terbuka ketika mau
menyempatkan diri untuk membaca buku ini. Pikiran kita tentang sosok pahlawan
yang selama ini terkooptasi dengan pemaknaan yang sempit, akan terbuka lebar.
Ternyata begitu banyak sosok yang patut dihadiahi sebuah gelar pahlawan. Para
penulis begitu lihai menangkap sosok-sosok itu, dan mengungkap dengan begitu
apik sisi-sisi kepahlawanan mereka lewat bait-bait puisi yang indah.
Perjuangan
seorang ibu semenjak mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan serta
mendidik anak-anaknya juga menjadi perhatian lebih dari penulis di dalam buku
ini. Rintihan sang ibu karena merasakan kesakitan saat melahirkan seolah hilang
saat mendengar tangisan pertama anaknya yang terlahir dengan selamat. Perjuangan
ibu bekerja mencari rezeki ke berbagai tempat demi sesuap nasi untuk
anak-anaknya, meski ia sendiri tidak sempat untuk mencicipinya. Namun kelelahan
dan rasa lapar yang terasa itu dihadapi dengan senyuman dan akan hilang
seketika saat menyaksikan keceriaan dan canda tawa yang diperlihatkan anak-
anak terkasih ketika menikmati hasil keringatnya itu (Hal 39).
Ada
yang mengungkap sisi-sisi kepahlawanan dari Nabi Muhammad SAW. Dalam bait
puisinya, penulis mengungkapkan Nabi SAW sebagai pahlawan yang mulia karena
begitu besar pengaruh yang telah beliau tabur, dan bahkan juga diakui oleh
seorang penyanyi Amerika Serikat bernama Michael Heart, yang notabenenya
seorang Yahudi (Hal 110-111).
Pada
bagian lain seorang petugas kebersihan kotapun tidak luput dari perhatian
mereka. Mereka yang alih-alih mendapat kehormatan dan penghargaan, malah
dipandang sebelah mata sebagai kaum yang tidak diperhitungkan. Kehadiran mereka
hanya dianggap sebagai masyarakat kelas dua yang tidak patut dihargai. Namun di
mata penulis buku ini, mereka mendapat tempat yang baik. Jasa mereka
membersihkan setiap sudut kota sehingga layak digelari pahlawan. Bahkan mereka
dianggap lebih baik daripada orang-orang cerdas yang dilingkupi berbagai gelar
tinggi, namun didapatkan dengan cara menyuap dan menyogok (Hal 225-226).
Dari
penulisan buku puisi ini ada beberapa kelemahan dan kesalahan yang saya lihat.
Yang pertama adalah soal tahun terbit yang seharusnya terbit pada Bulan Januari
2013, namun ditulis Januari 2012. Kemudian dari segi isi, tampak bahwa buku ini
merupakan tulisan dari para penulis pemula. Dan juga ada beberapa kesalahan
lain yang terlihat, seperti penulisan kata “ku” pada kata “ku inginkan” yang
seharusnya digabung menjadi “kuinginkan (Hal 163), kata “diragukan lagi”
seharusnya dipisah menjadi “diragukan lagi” (Hal 111). Namun penilaian secara
keseluruhan, buku ini bagus. Itu tampak dari pesan-pesan yang ingin disampaikan
oleh para penulis disusun dalam bait-bait puisi yang indah. Jadi bagi yang
ingin mengetahui hakikat dari kata pahlawan itu sesungguhnya, sudah
selayaknyalah memiliki dan memaknai isi dari buku “Kejora yang Setia Berpijar”
ini.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/30215/kejora-yang-setia-berpijar/#ixzz2PBV4CClf
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Penulis : 50 Penyair Muda Indonesia
Kategori : Buku Puisi
Penerbit : FAM Publishing
ISBN : 978-602-17404-08
Tahun terbit : Januari, 2013
Tebal : 280 halaman
Harga : Rp 45.000


