Senin, 18 Februari 2013

Bismillahirrahmanirrahim


Bicaralah,
Ya, kenapa engkau simpan duka ini demikian lama? Kabut hinggap di matamu yang indah, mendung demikian pekat menyelimuti. Akankah kau biarkan gelap mengikuti masa-masa yang akan datang? Tidakkah hatimu merindukan sebuah kehangatan, kehangatan yang tidak pura-pura? Mestikah engkau menyerah untuk sebuah masa lalu, masa lalu yang rapuh dan cuma-cuma, dan kau biarkan ( ia) menikam masa depanmu? Bukankah masa lalu kata Nabi bisa diperbaiki hari ini dan pada hari-hari mendatang?

Menangislah,
Kalau memang engkau ingin menangis. Jangan biarkan embun dihatimu mengkristal dan membuat beku gairah hidupmu. Yang membuat engkau tidak lagi bisa jujur, walau terhadap dirimu sendiri. Kenapa tidak engkau tumpahkan sakit yang sudah menggunung? Duka yang demikian lama mengendap? Asa yang ingin menjerit? Karena air matamu adalah jujur dan bermakna keikhlasan. Karena engkau adalah kekasih Allah yang rupawan.
Kita bicara tentang diri kita. Waktu berjalan di antara diri kita. Hanya kadang kita tidak mengerti, dilain waktu kita menipu diri kita sendiri. Langkah digerakkan sementara hati kebingungan. Mata dilayangkan padahal pikiran melayang-layang. Duhai, berkacalah engkau anak manusia.

( Aku? Aku berada dalam dirimu)

Betul bahwa manusia bersifat keluh kesah.Benar jika manusia memiliki watak pembangkang. Dan tidak sedikit yang tidak lagi mengerti makna sabar, walau setiap waktu ia shalat. MasyaAllah, sudikah engkau berada di tepi jurang, sementara janji Allah ( bagi yang shalat dan sabar) pasti akan datang? Masihkah engkau simpan kata-kata ( ooh masa laluku yang malang, ooh hidupku yang sumbang...)milikmu yang angkuh sementara Allah menetapkannya sebagai batu ujian?

Kamar dan meja kelak akan bersaksi, adakah seorang penghuni menyungkur sujud ke bumi, dengan penuh keikhlasan menemui Tuhannya. Bilik-bilik jantungmu dan urat nadi, langkah-langkah dan isi hati, adalah sahabat sekaligus penentu, tingkat kebersihan niat dan amal yang telah engkau kerjakan semasa hidupmu?

Berkatalah,
Berkata yang jujur bahwa engkau ingin mengisi hari-hari ini dan masa depan dengan amal yang saleh. Amal saleh yang tahan uji. Amal saleh yang tahu bersyukur. Bahwa engkau ingin menjadi seorang hamba yang punya harga diri yang bukan tahunya meratap dan meyakini, derajat kemuliaan itu sungguh telah dijanjikan.

Lihatlah kuncup hatimu mulai merekah, ketika membuka jendela kehidupan. Ah, kenapa tak kau biarkan ia menampakkan keindahan warnanya dan menebarkan wangi? Keindahan warna seorang muslimah yang hanif penuh kelembutan? Menebarkan wangi yang menyenangkan Ibu, bapak, adik-adik dan teman-teman?

Mulailah dengan Basmallah, ketika fajar mulai menyingsing, ketika kesadaran menghias kata-kata, ketika lembar kehidupan-kehidupan selanjutnya mulai dibuka. Mulailah dengan Basmallah, dan dirimu bersih, jiwamu tenang, hatimu suci. Kata-katamu membawa hikmah dan kesejukan.
Diammu sungguh anggun dan menyenangkan, menyenangkan karena  kini engkau mulai hari-hari dengan sebutan mulia. Mengagumkan karena sosok yang (telah) mampu menembus masa lalu( yang setiap orang pasti pula memiliki) yang kelabu.
Ya, karena engkau tawadhu’ mensyukuri nikmat dan menghargai masa lalu. Yang percaya, masa lalu, hari ini dan esok adalah dalam genggamanNya, dan pasti milikNya.
Hmm, mulailah dengan Basmallah.  



 (...ku yakin dalam setiap jenak kehidupanku, ada campur tangan yang Agung, Robbi....biarkan kugapai..RIDHA-MU....!!!!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar