Bicaralah,
Ya, kenapa engkau simpan duka ini demikian lama? Kabut hinggap
di matamu yang indah, mendung demikian pekat menyelimuti. Akankah kau biarkan
gelap mengikuti masa-masa yang akan datang? Tidakkah hatimu merindukan sebuah
kehangatan, kehangatan yang tidak pura-pura? Mestikah engkau menyerah untuk
sebuah masa lalu, masa lalu yang rapuh dan cuma-cuma, dan kau biarkan ( ia)
menikam masa depanmu? Bukankah masa lalu kata Nabi bisa diperbaiki hari ini dan
pada hari-hari mendatang?
Menangislah,
Kalau memang engkau ingin menangis. Jangan biarkan embun
dihatimu mengkristal dan membuat beku gairah hidupmu. Yang membuat engkau tidak
lagi bisa jujur, walau terhadap dirimu sendiri. Kenapa tidak engkau tumpahkan
sakit yang sudah menggunung? Duka yang demikian lama mengendap? Asa yang ingin
menjerit? Karena air matamu adalah jujur dan bermakna keikhlasan. Karena engkau
adalah kekasih Allah yang rupawan.
Kita bicara tentang diri kita. Waktu berjalan di antara diri
kita. Hanya kadang kita tidak mengerti, dilain waktu kita menipu diri kita
sendiri. Langkah digerakkan sementara hati kebingungan. Mata dilayangkan
padahal pikiran melayang-layang. Duhai, berkacalah engkau anak manusia.
( Aku? Aku berada dalam dirimu)
Betul bahwa manusia bersifat keluh kesah.Benar jika manusia memiliki
watak pembangkang. Dan tidak sedikit yang tidak lagi mengerti makna sabar,
walau setiap waktu ia shalat. MasyaAllah, sudikah engkau berada di tepi jurang,
sementara janji Allah ( bagi yang shalat dan sabar) pasti akan datang? Masihkah
engkau simpan kata-kata ( ooh masa laluku yang malang, ooh hidupku yang
sumbang...)milikmu yang angkuh sementara Allah menetapkannya sebagai batu
ujian?
Kamar dan meja kelak akan bersaksi, adakah seorang penghuni
menyungkur sujud ke bumi, dengan penuh keikhlasan menemui Tuhannya. Bilik-bilik
jantungmu dan urat nadi, langkah-langkah dan isi hati, adalah sahabat sekaligus
penentu, tingkat kebersihan niat dan amal yang telah engkau kerjakan semasa
hidupmu?
Berkatalah,
Berkata yang jujur bahwa engkau ingin mengisi hari-hari ini dan
masa depan dengan amal yang saleh. Amal saleh yang tahan uji. Amal saleh yang
tahu bersyukur. Bahwa engkau ingin menjadi seorang hamba yang punya harga diri
yang bukan tahunya meratap dan meyakini, derajat kemuliaan itu sungguh telah
dijanjikan.
Lihatlah kuncup hatimu mulai merekah, ketika membuka jendela
kehidupan. Ah, kenapa tak kau biarkan ia menampakkan keindahan warnanya dan
menebarkan wangi? Keindahan warna seorang muslimah yang hanif penuh kelembutan?
Menebarkan wangi yang menyenangkan Ibu, bapak, adik-adik dan teman-teman?
Mulailah dengan Basmallah, ketika fajar mulai
menyingsing, ketika kesadaran menghias kata-kata, ketika lembar
kehidupan-kehidupan selanjutnya mulai dibuka. Mulailah dengan Basmallah, dan
dirimu bersih, jiwamu tenang, hatimu suci. Kata-katamu membawa hikmah dan
kesejukan.
Diammu sungguh anggun dan menyenangkan, menyenangkan
karena kini engkau mulai hari-hari dengan sebutan mulia. Mengagumkan
karena sosok yang (telah) mampu menembus masa lalu( yang setiap orang pasti pula
memiliki) yang kelabu.
Ya, karena engkau tawadhu’ mensyukuri nikmat dan menghargai masa
lalu. Yang percaya, masa lalu, hari ini dan esok adalah dalam genggamanNya, dan
pasti milikNya.
Hmm, mulailah dengan Basmallah.
(...ku yakin dalam setiap jenak kehidupanku, ada campur
tangan yang Agung, Robbi....biarkan kugapai..RIDHA-MU....!!!!)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar